Filmnya
diawali dengan gambaran kehidupan keluarga Cemara yang awalnya baik-baik aja
saat mereka masih di kota. Lalu, masalah muncul saat Abah ditipu oleh koleganya
sendiri yang membuat harta serta rumahnya harus disita. Mereka sekeluarga pun
lalu pindah ke rumah Aki (Kakek) di kampung yang jauh di daerah kota Bogor. Hal
ini membuat gaya hidup Euis sekeluarga berubah 180 derajat.
Kisah
dimulai dari sibuknya Abah dalam bekerja sehingga tidak bisa menyempatkan hadir
dalam momen-momen penting keluarga seperti saat putrinya tengah tampil pentas
di sekolah atau ulang tahun di rumah. Dalam kesibukan tersebut tenyata usaha
yang dilaksanakan Abah gagal. Keuangan perusahaan defisit karena dana yang ada,
ternyata digunakan oleh mitra Abah yaitu kakak iparnya untuk investasi yang
bermasalah. Sebagai akibatnya seluruh Abah juga terkena dampaknya, rumah dan
hartanya disita oleh debt collector untuk membayar utang perusahaan yang
disebabkan oleh kakak iparnya.
Abah
bersama keluarga kemudian terpaksa pindah sementara ke rumah di desa terpencil
di Jawa Barat. Rumah itu merupakan rumah masa kecilnya, sebuah warisan dari
ayahnya. Abah juga terus berusaha untuk memenangkan gugatannya di pengadilan
karena ia tidak merasa ikut bisnis kakak iparnya. Tapi usahanya tersebut gagal,
karena ternyata tanpa disadari tanda tangannya terdapat di kontrak investasi
yang dilakukan kakak iparnya.
Abah
kemudian dengan terpaksa harus beradaptasi seadanya demi keutuhan rumah
tangganya. Sangat membahagiakan keluarganya ternyata mau menerima segala apa
yang terjadi. Penerimaan ini membuat Abah kemudian bekerja sekeras mungkin
dengan iklim desa. Ia kemudian menjadi kuli bangunan. Emak membantunya dengan
memproduksi dan menjual opak. Euis ikut menjualnya opak tersebut ke sekolahnya.
Sekalipun demikian beberapa masalah keluarga tetap timbul karena kemiskinan
yang ada dan karena usia Euis yang telah meremaja. Namun demikian semua dapat
diatasi.
Suatu
ketika Abah jatuh saat bekerja sebagai kuli bangunan, kaki Abah sakit. Setelah
sembuh ia kemudian mencari pekerjaan baru menjadi driver motor Gojek. Sebagai
driver motor, ekonomi Abah menjadi lebih baik. Emak juga kini hamil lagi.
Namun
keinginan kembali ke kota tetap masih sangat besar, sehingga Abah ingin menjual
rumah warisan yang ditempatinya sekarang untuk modal usaha. Abah lalu menangani
akta jual beli setelah seorang peminat ingin membeli rumahnya datang. Ternyata
rencana Abah ditentang oleh anak-anaknya. Hal ini karena anaknya merasa lebih
bahagia di desa. Hal ini karena kedekatan keluarga dirasakan jauh lebih baik
dari pada di kota dulu. Euis dan Ara pun sudah dapat beradaptasi di sekolahnya.
Karena
merasa nota jual beli sudah ditandatangani dan memberikan DP, pembeli rumah
mulanya keberatan. Namun akhirnya semua permasalahan selesai, karena pembeli
mau mengembalikan rumah yang telah dibelinya. Di saat itu pula, Emak kemudian
melahirkan. Mereka kemudian bahagia tinggal di desa.
Kisah
ini tentu menginspirasi keluarga Indonesia untuk tetap bisa sabar dalam seberapapun
berat cobaan yang mendera. Hanya saja sayangnya, kisah-kisah yang disajikan
terlalu terlihat dipaksakan dan kurang begitu cair. Film ini juga seperti
film-film lain terlalu menekankan pada syndrome Siti Nurbaya. Di mana orang
asing dilukiskan terlalu sangat baik karena mau mengembalikan tanah yang sudah
ia beli.
Ghina Lestiana (1174020051)
KPI/VII B
